>>
Jenis-jenis dan Saluran Mobiltas Sosial
1.
Jenis-jenis mobilitas
sosial
a.
Mobilitas sosial berdasarkan
tipe
Berdasarkan tipenya, mobilitas sosial dibagi menjadi
empat macam, sebagai berikut.
1)
Mobilitas sosial horizontal
Mobilitas sosial horizontal merupakan peralihan individu
atau kelompok sosial dari suatu kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya yang
sederajat. Misalnya :
a)
Berganti kewarganegaraan dari
warga Negara Malaysia menjadi Negara Republik Indonesia.
b)
Seorang petani kopi beralih
atau mengganti kegiatan pertaniannya dengan menanam karet.
c)
Seorang guru menengah atas
(SMA) pindah menjadi guru sekolah menengah kejuruan (SMK).
Mobilitas sosial
horizontal tidak menimbulkan pengaruh sosial secara langsung terhadap status
sosial seseorang dan skala wibawanya tidak berubah menjadi naik atau turun.
Akan tetapi, perubahan dapat memberikan penyegaran karena bertambahnya
pengalaman dan pengetahuan baru.
2)
Mobilitas sosial vertikal
Mobilitas sosial vertikal adalah perpindahan individu
atau objek dari suatu kedudukan sosial ke kedudukan sosial lainnya yang tidak
sederajat. Jadi, pergerakannya vertikal, dari atas ke bawah atau dari bawah ke
atas. Dilihat dari kemungkinan arah yang dapat dilakukan, maka mobilitas ini dapat
dibedakan lagi menjadi dua
a)
Mobilitas sosial naik (social climbing mobility atau upward mobility)
Menurut Michael S. Bassis (1988), mobilitas sosial naik
mempunyai dua bentuk utama, yaitu :
(1)
Masuknya individu-individu yang
mulanya memiliki kedudukan lebih rendah ke dalam kedudukan yang lebih tinggi.
Misalnya, seorang kepala dusun diangkat menjadi kepala desa atau lurah.
(2)
Pembentukan suatu kelompok baru
yang kemudian ditempatkan pada derajat yang lebih tinggi dari kedudukan
individu-individu pembentuk kelompok tersebut. Misalnya, pengangkatan ketua
suatu organisasi dari beberapa tim formatur yang sebelumnya sudah dipilih
anggotanya.
b)
Mobilitas sosial turun (social sinking mobility ataudownward mobility)
Mobilitas vertikal turun, artinya perpindahan seseorang
ke kelas sosial yang lebih rendah dari sebelumnya. Dilihat dari bentuknya,
mobilitas sosial turun ini juga terdiri atas dua bentuk yang utama, yaitu :
(1)
Turunnya kedudukan individu ke
kedudukan yang lebih rendah dari sebelumnya. Misalnya, direktur suatu
perusahaan turun statusnya menjadi operator mesin.
(2)
Turunnya derajat suatu kelompok
individu yang dapat berupa disintregasi kelompok dalam suatu kesatuan.
Misalnya, saat suatu perusahaan keluarga bangkrut karena perpecahan diantara pengelolanya, maka kelas
sosial keluarga
(3)
pemilik sebagai kelompok sosial
akan turun ke kelas sosial yang lebih rendah dan bukan termasuk lagi kelas
atas.
3)
Mobilitas sosial lateral
Mobilitas lateral disebut pula mobilitas geografis.
Mobilitas lateral mengacu pada mobilitas perpindahan orang-orang, baik secara
individu maupun kelompok, dari unit-unit wilayah (ruang) satu ke unit wilayah
lain yang secara tidak langsung mengubah status sosial seseorang. Kadang-kadang
secara umum mobilitas lateral ini disebut pula mobilitas sosial horizontal
karena perpindahan/mobilitas dilakukan secara horizontal.
Mobilitas lateral terbagi menjadi dua, yaitu :
a)
Mobilitas permanen, yaitu
mobilitas yang bermaksud melakukan perpindahan permanen/menetap.
b)
Mobilitas tidak permanen, yaitu
segala bentuk mobilitas individu atau kelompok yang bersift sementara, jangka
pendek, dan tidak bermaksud pindah secara permanen.
Ciri khas dari
mobilitas sosial lateral adalah adanya perpindahan individu atau kelompok
secara fisik dari satu tempat ke tempat yang lain.
4)
Mobilitas struktural
Menurut Bassis, mobilitas
struktural adalah mobilitas yang disebabkan oleh inovasi teknologi, urbanisasi,
pertumbuhan ekonomi, peperangan, dan kejadian-kejadian lainnya yang mengubah
struktur dan jenis kelompok-kelompok dalam masyarakat. Jadi, mobilitas
struktural meliputi kesatuan yang luas dan kompleks yang apabila ditelusuri
dapat disebabkan oleh hal-hal positif atau melalui bencana. Mobilitas
struktural juga dapat mengarah pada mobilitas ke atas (masyarakat pertanian
tradisional berpindah menjadi masyarakat industri) dan dapat pula mobilitas ke
bawah (krisis ekonomi dapat menyebabkan pendapatan per kapita penduduk berkurang atau turun pada
tingkat yang sangat rendah). Dengan kata lain, mobilitas struktural cenderung
mengarah pada mobilitas sosial vertikal.
b.
Mobilitas berdasarkan ruang
lingkup
Mobilitas sosial menurut ruang linkupnya terdiri atas
dua jenis, sebagai berikut.
1)
Mobilitas intragenerasi
Mobilias intragenerasi adalah mobilitas sosial yang
dialami seseorang selama masa hidupnya (dalam satu generasi). Atau dengan kata
lain, mobilitas intragenerasi adalah perubahan status sosial seseorang
sepanjang usianya, mulai dari lahir hingga meninggal dunia. Misalnya seorang
tenaga kuli bangunan berpindah kelas sosial menjadi seorang mandor, atau
pengecer Koran yang berhasil menjadi agen utama Koran. Mobilitas intragenerasi
tidak selalu bergerak ke kelas dan status sosial yang lebih tinggi. Dalam hal
lain, mobilitas intragenerasi dapat pula turun ke status sosial yang lebih
rendah. Misalnya, seorang karyawan di-PHK dari perusahaannya karena terjadi
krisis ekonomi sehingga ia kembali menjadi pengangguran.
2)
Mobilitas antargenerasi
Mobilitas antargenerasi adala mobilitas sosial yang
terjadi antara dua generasi atau lebih. Mobilitas seperti ini terjadi karena
adanya perubahan status sosial antara ayah dengan anak, anak dengan cucu, dan
seterusnya. Kebanyakan masyarakat menganut sistem bahwa selama anak belum
membangun keluarga sendiri (menikah), maka prestise anak tersebut, baik dalam
promosi pendidikan atau jabatan, masih dihitung sebagai prestise keluarga.
Jadi, ia dianggap belum mengalami mobilitas sosial. Dengan demikian, mobilitas
antargenerasi mengacu kepada perbedaan status yang dicapai seseorang yang telah
memiliki keluarga sendiri dibandingkan dengan status sosial yang dimiliki orang
tuanya.
2.
Saluran mobilitas sosial
Menurut Pitirim A. Sorokin, mobilitas sosial vertikal mempunyai
saluran-saluran dalam masyarakat.
Proses mobilitas sosial vertikal melalui saluran-saluran tersebut disebut
sebagai social sirculation. Saluran-saluran mobilitas vertikal, antara
lain angkatan bersenjata, lembaga Negara, lembaga pendidikan, organisasi
politik, ekonomi, dan organisasi kehlian.
- a. Angkatan bersenjata
Angkatan bersenjata
berperan dalam masyarakat dengan militerisme. Misalnya, dalam keadaan perang.
Suatu Negara akan mengharap kemenangan dari suatu peperangan. Jasa seorang
prajurit akan dihargai tinggi oleh masyarakat. Karena jasanya pula ia akan
meningkat ke kedudukan yang lebih tinggi.
- b.
Lembaga-lembaga keagamaan
Kedudukan seorang manusia
dihadapan Tuhan, dalam ajaran agama adalah sama atau setara. Maka para pemuka
penting agama kadang berjuang keras untuk menaikkan kedudukan orang-orang dari
lapisan yang lebih rendah. Dengan tercapainya kesetaraan derajat manusia
dihadapan Tuhan, maka memungkinkan interaksi antar pemeluk agama dalam
masyarakat lebih terjalin.
- c.
Lembaga-lembaga pendidikan
Para sosiolog percaya,
bahwa pendidikan merupakan sarana untuk mengatasi berbagai perbedaan kelas di
masyarakat. Para ahli juga percaya bahwa persamaan dalam arti yang hakiki dalam
masyarakat dapat dicapai dengan pendidikan. Melalui jenjang pendidikan yang
lebih tinggi, seseorang dapat meningkatkan status sosialnya. Maka ada beberapa
ahli yang mengatakan bahwa sekolah-sekolah disebut sebagai social elevator bagi individu.
- d. Organisasi politik
Organisasi politik dapat
memberi peluang besar bagi para anggotanya. Pada masyarakat yang demokratis,
lembaga pemilihan umum yang memegang peranan penting dalam pembentukan
kepemimpinan. Organisasi-organisasi politik mempunyai peranan yang sama
walaupun dalam bentuk yang lain. Supaya seseorang terpilih sebagai pemimpin,
terlebih dahulu harus mampu membuktikan dirinya sebagai orang yang
berkepribadian baik dan juga mempunyai wujud aspirasi-aspirasi yang baik.
- e.
Organisasi ekonomi
Organisasi ekonomi
memegang peranan penting sebagai saluran gerak sosial vertikal. Pada umumnya,
seseorang dengan penghasilan tinggi akan menduduki lapisan sosial yang tinggi
pula. Bahkan, faktor ekonomi sering menjadi simbol status bagi kedudukan
seseorang dalam masyarakat.
- f.
Organisasi keahlian
Organisasi-organisasi
keahlian merupakan suatu wadah yang dapat menampung individu-individu dengan
masing-masing keahliannya untuk diperkenalkan dalam masyarakat. Contoh
organisasi keahlian adalah himpunan sarjana ilmu pengetahuan, persatuan
sastrawan, dan organisasi pelukis.
>>
Cara Melakukan Mobilitas Sosial
Untuk mempermudah terjadinya proses mobilitas sosial diperlukan beberapa
cara mobilitas.
Cara-cara mobilitas di bawah ini akan
mempercepat terjadinya perubahan kedudukan sosial.
1.
Peningkatan penghasilan
Kenaikan penghasilan tidak
menaikan status secara otomatis,melainkan akan merefleksi suatu standar hidup
yang lebih tinggi.ini akan memengaruhi pningkatan status di dalam
masyarakat,status itu nantinya akan menambah peran yang di miliki oleh individu
tersebut. Contohnya seorang pegawai rendahan, karena keberhasilan dan
prestasinya diberikan kenaikan menjadi manager sehingga tingkat pendapatannya
naik. Status sosialnya dimasyarakat tidak dapat dikatakan naik apabila ia tidak
merubah standar hidupnya, misalnya jika dia memutuskan untuk tetap hidup sederhana
seperti ketika ia menjadi pegawai rendahan.
2.
Perkawinan

Untuk meningkatkan status
sosial yang lebih tinggi dapat dilakukan melalui perkawinan. Tetapi dalam
perkawinan tidak hanya mengubah individu menjadi individu yang berstatus
ekonomi tinggi, bahkan akan menciptakan status baru, yaitu individu menjadi
bapak atau pemimpin dalam lembaga keluarga.dengan adanya status baru tersebut
maka individu akan bertambah peranannya di dalam masyarakat. contohnya seorang
wanita yang berasal dari keluarga sangat sederhana menikah dengan laki-laki
dari keluarga kaya dan terpandang
dimasyarakatnya. Perkawinan ini dapat menaikan status si wanita
tersebut.
3.
Perubahan tempat tinggal
Untuk meningkatkan status
sosial, seseorang dapat berpindah tempat tinggal dari tempat tinggal yang lama
ketempat tinggal yang baru. Atau dengan cara merekonstruksi tempat tinggalnya
yang lama menjadi lebih megah, indah, dan mewah. Secara otomatis, seseorang
yang memiliki tempat tinggal mewah akan disebut sebagai orang kaya oleh
masyarakat. Hal ini menunjukkan terjadinya gerak sosial ke atas.
4.
Perubahan tingkah laku
Untuk mendapatkan status
sosial yang nama ntinggi, orang berusaha menaikkan status sosialnya dan
mempraktikkan bentuk-bentuk tingkah laku kelas yang lebih tinggi yang
diaspirasikan sebagai kelasnya. Bukan hanya tingkah laku, tetapi juga pakaian,
ucapan, minat, dan sebagainya.
5.
Perubahan nama
Dalam suatu masyrakat,
sebuah nama diidentifikasikan pada posisi sosial tertentu. Gerak keatas dapat
dilaksanakan dengan mengubah nama yang menunjukkan posisi sosial yang lebih
tinggi. Mobilitas ini biasanya terjadi pada masyarakat feudal dan masyarakat
militer. Perubahan nama terjadi seiring dengan kenaikan pangkat. Contohnya di
kalangan masyarakat feodal jawa, seseorang yang memiliki status sebagai orang
kebanyakan mendapat sebutan “kang” di depan nama aslinya. Setelah di angkat
sebaggai pengawas pamong praja sebutan dan namanya berubah sesuai dengan
kedudukannya yang baru seperti “raden”.
>>
Dampak Mobilitas Sosial
Menurut Horton dan Hun, ada beberapa konsekuensi negatif
dari adanya mobilitas sosial vertikal, yaitu :
1.
Kecemasan akan terjadi
penurunan status bila terjadi mobilitas menurun.
2.
Ketegangan dalam mempelajari
peran baru dari status jabatan yang meningkat.
3.
Kerekatan hubungan antaranggota
kelompok primer yang semula karena seseorang berpindah status yang lebih tinggi
atau ke status yang lebih rendah.
Mobilitas sosial
membawa dampak, baik dampak positif maupun dampak negatif.
1.
Dampak positif
a.
Tejadinya struktur sosial yang adil. Hal ini terlihat dari
adanya penempatan orang-orang pada kedudukannya sesuai dengan kriteria-kriteria
kemampuan yang dimilikinya. Selain itu, juga terdapat adanya pemberian peluang
dan kesempatan yang sama bagi setiap orang untuk meraih prestasi yang baik.
b.
Struktur sosial menjadi luwes,
bagi mereka yang tidak menutup pintu untuk terjadinya mobilitas sosial
vertikal.
c.
Terbentuknya masyarakat yang
modern.
d.
Terwujudnya masyarakat yang
ahli (expert society).
2.
Dampak negatif
a.
Adanya rasa ketidakpuasan dan
ketidakbahagiaan, terutama bagi mereka yang turun serta gagal dalam meraih
kedudukan yang lebih tinggi.
b.
Adanya gejala mencari jalan
pintas dan penyelewengan demi peningkatan status, akibat dari persaingan yang
keras dan ketat dalam masyarakat.
c.
Munculnya gejala depresi dan
frustasi dalam sebuah masyarakat, karena kurangnya kecakapan seseorang dalam
menghadapi persingan yang sengit dan ketat dalam kehidupannya yang
sewaktu-waktu pada kemungkinan untuk gagal atau turun kedudukannya.
d.
Munculnya gejala alienasi
(perasaan terasing) dalam individu, akibat dari hilangnya ikatan sosial yang
sudah lama terjadi sebagai konsekuensi atas pilihan individu untuk menjalani
kehidupan yang sangat kontraks dengan keadaan yang sebelumnya.
>>
Modernisasi dan Globalisasi sebagai Dampak Interaksi dan Mobilitas Sosial
Globalisasi adalah proses dimana hubungan sosial dan saling
ketergantungan antarnegara dan antarmanusia di dunia ini semakin besar. Adapun
modernisasi adalah proses pergeseran sikap dan mentalitas sebagai warga
masyarakat untuk dapat hidup sesuai dengan tuntutan masa kini.
1.
Faktor pendorong
terjadinya modernisasi
Faktor-faktor pendrong
terjadinya modernisasi, sebagai berikut.
a.
Hidup lebih praktis atau lebih
nyaman. Salah satu tujuan pembangunan taman-taman, jalur hijau, jalan tol,
pasar swalayan, jalan raya, dan sarana-sarana yaitu menunjang kenyamanan hidup.
b.
Meningkatkan efisiensi kerja
dan meningkatkan produksi. Hal ini misalnya dilakukan dengan mekanisasi
pertanian, komputerisasi, pendidikan, dan pelatihan.

c.
Mendapat sesuatu yang lebih
banyak, lebih bermutu, lebih bagus, lebih hemat tenaga, dan lebih baik.
Misalnya penggunaan alat-alat modern dalam bidang industri, kedokteran,
perbankan, dan berbagai pelayanan umum lainnya.
Wah, terimakasih.. sangat bermanfaat 👍
BalasHapusAlhamdulillah sangat bermanfaat 😍
BalasHapus