Label

Senin, 18 Mei 2020

Mobilitas Sosial


>> Jenis-jenis dan Saluran Mobiltas Sosial
1.      Jenis-jenis mobilitas sosial
a.       Mobilitas sosial berdasarkan tipe
Berdasarkan tipenya, mobilitas sosial dibagi menjadi empat macam, sebagai berikut.
1)      Mobilitas sosial horizontal
Mobilitas sosial horizontal merupakan peralihan individu atau kelompok sosial dari suatu kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya yang sederajat. Misalnya :
a)      Berganti kewarganegaraan dari warga Negara Malaysia menjadi Negara Republik Indonesia.
b)      Seorang petani kopi beralih atau mengganti kegiatan pertaniannya dengan menanam karet.
c)       Seorang guru menengah atas (SMA) pindah menjadi guru sekolah menengah kejuruan (SMK).
Mobilitas sosial horizontal tidak menimbulkan pengaruh sosial secara langsung terhadap status sosial seseorang dan skala wibawanya tidak berubah menjadi naik atau turun. Akan tetapi, perubahan dapat memberikan penyegaran karena bertambahnya pengalaman dan pengetahuan baru.
2)      Mobilitas sosial vertikal
Mobilitas sosial vertikal adalah perpindahan individu atau objek dari suatu kedudukan sosial ke kedudukan sosial lainnya yang tidak sederajat. Jadi, pergerakannya vertikal, dari atas ke bawah atau dari bawah ke atas. Dilihat dari kemungkinan arah yang dapat dilakukan, maka mobilitas ini dapat dibedakan lagi menjadi dua
a)      Mobilitas sosial naik (social climbing mobility atau upward mobility)
Menurut Michael S. Bassis (1988), mobilitas sosial naik mempunyai dua bentuk utama, yaitu :
(1)    Masuknya individu-individu yang mulanya memiliki kedudukan lebih rendah ke dalam kedudukan yang lebih tinggi. Misalnya, seorang kepala dusun diangkat menjadi kepala desa atau lurah.
(2)    Pembentukan suatu kelompok baru yang kemudian ditempatkan pada derajat yang lebih tinggi dari kedudukan individu-individu pembentuk kelompok tersebut. Misalnya, pengangkatan ketua suatu organisasi dari beberapa tim formatur yang sebelumnya sudah dipilih anggotanya.
b)      Mobilitas sosial turun (social sinking mobility ataudownward mobility)
Mobilitas vertikal turun, artinya perpindahan seseorang ke kelas sosial yang lebih rendah dari sebelumnya. Dilihat dari bentuknya, mobilitas sosial turun ini juga terdiri atas dua bentuk yang utama, yaitu :
(1)    Turunnya kedudukan individu ke kedudukan yang lebih rendah dari sebelumnya. Misalnya, direktur suatu perusahaan turun statusnya menjadi operator mesin.
(2)    Turunnya derajat suatu kelompok individu yang dapat berupa disintregasi kelompok dalam suatu kesatuan. Misalnya, saat suatu perusahaan keluarga bangkrut karena  perpecahan diantara pengelolanya, maka kelas sosial keluarga
(3)    pemilik sebagai kelompok sosial akan turun ke kelas sosial yang lebih rendah dan bukan termasuk lagi kelas atas.
3)      Mobilitas sosial lateral
Mobilitas lateral disebut pula mobilitas geografis. Mobilitas lateral mengacu pada mobilitas perpindahan orang-orang, baik secara individu maupun kelompok, dari unit-unit wilayah (ruang) satu ke unit wilayah lain yang secara tidak langsung mengubah status sosial seseorang. Kadang-kadang secara umum mobilitas lateral ini disebut pula mobilitas sosial horizontal karena perpindahan/mobilitas dilakukan secara horizontal.
Mobilitas lateral terbagi menjadi dua, yaitu :
a)      Mobilitas permanen, yaitu mobilitas yang bermaksud melakukan perpindahan permanen/menetap.
b)      Mobilitas tidak permanen, yaitu segala bentuk mobilitas individu atau kelompok yang bersift sementara, jangka pendek, dan tidak bermaksud pindah secara permanen.
Ciri khas dari mobilitas sosial lateral adalah adanya perpindahan individu atau kelompok secara fisik dari satu tempat ke tempat yang lain.
4)      Mobilitas struktural
Menurut Bassis, mobilitas struktural adalah mobilitas yang disebabkan oleh inovasi teknologi, urbanisasi, pertumbuhan ekonomi, peperangan, dan kejadian-kejadian lainnya yang mengubah struktur dan jenis kelompok-kelompok dalam masyarakat. Jadi, mobilitas struktural meliputi kesatuan yang luas dan kompleks yang apabila ditelusuri dapat disebabkan oleh hal-hal positif atau melalui bencana. Mobilitas struktural juga dapat mengarah pada mobilitas ke atas (masyarakat pertanian tradisional berpindah menjadi masyarakat industri) dan dapat pula mobilitas ke bawah (krisis ekonomi dapat menyebabkan pendapatan  per kapita penduduk berkurang atau turun pada tingkat yang sangat rendah). Dengan kata lain, mobilitas struktural cenderung mengarah pada mobilitas sosial vertikal.
b.      Mobilitas berdasarkan ruang lingkup
Mobilitas sosial menurut ruang linkupnya terdiri atas dua jenis, sebagai berikut.
1)      Mobilitas intragenerasi
Mobilias intragenerasi adalah mobilitas sosial yang dialami seseorang selama masa hidupnya (dalam satu generasi). Atau dengan kata lain, mobilitas intragenerasi adalah perubahan status sosial seseorang sepanjang usianya, mulai dari lahir hingga meninggal dunia. Misalnya seorang tenaga kuli bangunan berpindah kelas sosial menjadi seorang mandor, atau pengecer Koran yang berhasil menjadi agen utama Koran. Mobilitas intragenerasi tidak selalu bergerak ke kelas dan status sosial yang lebih tinggi. Dalam hal lain, mobilitas intragenerasi dapat pula turun ke status sosial yang lebih rendah. Misalnya, seorang karyawan di-PHK dari perusahaannya karena terjadi krisis ekonomi sehingga ia kembali menjadi pengangguran.
2)      Mobilitas antargenerasi
Mobilitas antargenerasi adala mobilitas sosial yang terjadi antara dua generasi atau lebih. Mobilitas seperti ini terjadi karena adanya perubahan status sosial antara ayah dengan anak, anak dengan cucu, dan seterusnya. Kebanyakan masyarakat menganut sistem bahwa selama anak belum membangun keluarga sendiri (menikah), maka prestise anak tersebut, baik dalam promosi pendidikan atau jabatan, masih dihitung sebagai prestise keluarga. Jadi, ia dianggap belum mengalami mobilitas sosial. Dengan demikian, mobilitas antargenerasi mengacu kepada perbedaan status yang dicapai seseorang yang telah memiliki keluarga sendiri dibandingkan dengan status sosial yang dimiliki orang tuanya.
2.      Saluran mobilitas sosial
                 Menurut Pitirim A. Sorokin, mobilitas sosial vertikal mempunyai saluran-saluran dalam     masyarakat. Proses mobilitas sosial vertikal melalui saluran-saluran tersebut disebut sebagai social sirculation.  Saluran-saluran mobilitas vertikal, antara lain angkatan bersenjata, lembaga Negara, lembaga pendidikan, organisasi politik, ekonomi, dan organisasi kehlian.

  • a.      Angkatan bersenjata
Angkatan bersenjata berperan dalam masyarakat dengan militerisme. Misalnya, dalam keadaan perang. Suatu Negara akan mengharap kemenangan dari suatu peperangan. Jasa seorang prajurit akan dihargai tinggi oleh masyarakat. Karena jasanya pula ia akan meningkat ke kedudukan yang lebih tinggi.

  • b.      Lembaga-lembaga keagamaan
Kedudukan seorang manusia dihadapan Tuhan, dalam ajaran agama adalah sama atau setara. Maka para pemuka penting agama kadang berjuang keras untuk menaikkan kedudukan orang-orang dari lapisan yang lebih rendah. Dengan tercapainya kesetaraan derajat manusia dihadapan Tuhan, maka memungkinkan interaksi antar pemeluk agama dalam masyarakat lebih terjalin.

  • c.       Lembaga-lembaga pendidikan
Para sosiolog percaya, bahwa pendidikan merupakan sarana untuk mengatasi berbagai perbedaan kelas di masyarakat. Para ahli juga percaya bahwa persamaan dalam arti yang hakiki dalam masyarakat dapat dicapai dengan pendidikan. Melalui jenjang pendidikan yang lebih tinggi, seseorang dapat meningkatkan status sosialnya. Maka ada beberapa ahli yang mengatakan bahwa sekolah-sekolah disebut sebagai social elevator bagi individu.

  • d.     Organisasi politik
Organisasi politik dapat memberi peluang besar bagi para anggotanya. Pada masyarakat yang demokratis, lembaga pemilihan umum yang memegang peranan penting dalam pembentukan kepemimpinan. Organisasi-organisasi politik mempunyai peranan yang sama walaupun dalam bentuk yang lain. Supaya seseorang terpilih sebagai pemimpin, terlebih dahulu harus mampu membuktikan dirinya sebagai orang yang berkepribadian baik dan juga mempunyai wujud aspirasi-aspirasi yang baik.

  • e.      Organisasi ekonomi
Organisasi ekonomi memegang peranan penting sebagai saluran gerak sosial vertikal. Pada umumnya, seseorang dengan penghasilan tinggi akan menduduki lapisan sosial yang tinggi pula. Bahkan, faktor ekonomi sering menjadi simbol status bagi kedudukan seseorang dalam masyarakat.

  • f.        Organisasi keahlian
Organisasi-organisasi keahlian merupakan suatu wadah yang dapat menampung individu-individu dengan masing-masing keahliannya untuk diperkenalkan dalam masyarakat. Contoh organisasi keahlian adalah himpunan sarjana ilmu pengetahuan, persatuan sastrawan, dan organisasi pelukis.


>> Cara Melakukan Mobilitas Sosial
       Untuk mempermudah terjadinya proses mobilitas sosial diperlukan beberapa cara mobilitas.
Cara-cara mobilitas di bawah ini akan mempercepat terjadinya perubahan kedudukan sosial.
1.      Peningkatan penghasilan
Kenaikan penghasilan tidak menaikan status secara otomatis,melainkan akan merefleksi suatu standar hidup yang lebih tinggi.ini akan memengaruhi pningkatan status di dalam masyarakat,status itu nantinya akan menambah peran yang di miliki oleh individu tersebut. Contohnya seorang pegawai rendahan, karena keberhasilan dan prestasinya diberikan kenaikan menjadi manager sehingga tingkat pendapatannya naik. Status sosialnya dimasyarakat tidak dapat dikatakan naik apabila ia tidak merubah standar hidupnya, misalnya jika dia memutuskan untuk tetap hidup sederhana seperti ketika ia menjadi pegawai rendahan.
2.      Perkawinan

Calon Pengantin Tak ikut Sertifikasi Perkawinan Tetap Boleh Menikah
Untuk meningkatkan status sosial yang lebih tinggi dapat dilakukan melalui perkawinan. Tetapi dalam perkawinan tidak hanya mengubah individu menjadi individu yang berstatus ekonomi tinggi, bahkan akan menciptakan status baru, yaitu individu menjadi bapak atau pemimpin dalam lembaga keluarga.dengan adanya status baru tersebut maka individu akan bertambah peranannya di dalam masyarakat. contohnya seorang wanita yang berasal dari keluarga sangat sederhana menikah dengan laki-laki dari keluarga kaya dan terpandang  dimasyarakatnya. Perkawinan ini dapat menaikan status si wanita tersebut.
3.      Perubahan tempat tinggal
Untuk meningkatkan status sosial, seseorang dapat berpindah tempat tinggal dari tempat tinggal yang lama ketempat tinggal yang baru. Atau dengan cara merekonstruksi tempat tinggalnya yang lama menjadi lebih megah, indah, dan mewah. Secara otomatis, seseorang yang memiliki tempat tinggal mewah akan disebut sebagai orang kaya oleh masyarakat. Hal ini menunjukkan terjadinya gerak sosial ke atas.
4.      Perubahan tingkah laku
Untuk mendapatkan status sosial yang nama ntinggi, orang berusaha menaikkan status sosialnya dan mempraktikkan bentuk-bentuk tingkah laku kelas yang lebih tinggi yang diaspirasikan sebagai kelasnya. Bukan hanya tingkah laku, tetapi juga pakaian, ucapan, minat, dan sebagainya.
5.      Perubahan nama

Dalam suatu masyrakat, sebuah nama diidentifikasikan pada posisi sosial tertentu. Gerak keatas dapat dilaksanakan dengan mengubah nama yang menunjukkan posisi sosial yang lebih tinggi. Mobilitas ini biasanya terjadi pada masyarakat feudal dan masyarakat militer. Perubahan nama terjadi seiring dengan kenaikan pangkat. Contohnya di kalangan masyarakat feodal jawa, seseorang yang memiliki status sebagai orang kebanyakan mendapat sebutan “kang” di depan nama aslinya. Setelah di angkat sebaggai pengawas pamong praja sebutan dan namanya berubah sesuai dengan kedudukannya yang baru seperti “raden”.


>> Dampak Mobilitas Sosial
       Menurut Horton dan Hun, ada beberapa konsekuensi negatif dari adanya mobilitas sosial vertikal, yaitu :
1.       Kecemasan akan terjadi penurunan status bila terjadi mobilitas menurun.
2.       Ketegangan dalam mempelajari peran baru dari status jabatan yang meningkat.
3.       Kerekatan hubungan antaranggota kelompok primer yang semula karena seseorang berpindah status yang lebih tinggi atau ke status yang lebih rendah.
Mobilitas sosial membawa dampak, baik dampak positif maupun dampak negatif.
1.      Dampak positif
a.       Tejadinya struktur  sosial yang adil. Hal ini terlihat dari adanya penempatan orang-orang pada kedudukannya sesuai dengan kriteria-kriteria kemampuan yang dimilikinya. Selain itu, juga terdapat adanya pemberian peluang dan kesempatan yang sama bagi setiap orang untuk meraih prestasi yang baik.
b.      Struktur sosial menjadi luwes, bagi mereka yang tidak menutup pintu untuk terjadinya mobilitas sosial vertikal.
c.       Terbentuknya masyarakat yang modern.
d.      Terwujudnya masyarakat yang ahli (expert society).
2.      Dampak negatif
a.       Adanya rasa ketidakpuasan dan ketidakbahagiaan, terutama bagi mereka yang turun serta gagal dalam meraih kedudukan yang lebih tinggi.
b.      Adanya gejala mencari jalan pintas dan penyelewengan demi peningkatan status, akibat dari persaingan yang keras dan ketat dalam masyarakat.
c.       Munculnya gejala depresi dan frustasi dalam sebuah masyarakat, karena kurangnya kecakapan seseorang dalam menghadapi persingan yang sengit dan ketat dalam kehidupannya yang sewaktu-waktu pada kemungkinan untuk gagal atau turun kedudukannya.
d.      Munculnya gejala alienasi (perasaan terasing) dalam individu, akibat dari hilangnya ikatan sosial yang sudah lama terjadi sebagai konsekuensi atas pilihan individu untuk menjalani kehidupan yang sangat kontraks dengan keadaan yang sebelumnya.



>> Modernisasi dan Globalisasi sebagai Dampak Interaksi dan Mobilitas Sosial
      Globalisasi adalah proses dimana hubungan sosial dan saling ketergantungan antarnegara dan antarmanusia di dunia ini semakin besar. Adapun modernisasi adalah proses pergeseran sikap dan mentalitas sebagai warga masyarakat untuk dapat hidup sesuai dengan tuntutan masa kini.
1.      Faktor pendorong terjadinya modernisasi
Faktor-faktor pendrong terjadinya modernisasi, sebagai berikut.
a.       Hidup lebih praktis atau lebih nyaman. Salah satu tujuan pembangunan taman-taman, jalur hijau, jalan tol, pasar swalayan, jalan raya, dan sarana-sarana yaitu menunjang kenyamanan hidup.
b.      Meningkatkan efisiensi kerja dan meningkatkan produksi. Hal ini misalnya dilakukan dengan mekanisasi pertanian, komputerisasi, pendidikan, dan pelatihan.

Petani Membajak Sawah Pertanian | Seputar Semarang
c.       Mendapat sesuatu yang lebih banyak, lebih bermutu, lebih bagus, lebih hemat tenaga, dan lebih baik. Misalnya penggunaan alat-alat modern dalam bidang industri, kedokteran, perbankan, dan berbagai pelayanan umum lainnya.

2 komentar: